Selasa, 27 September 2016






PENDAPAT GURU ; Puasa, Kesabaran dan Peningkatan Soft Skill

SALAH satu semangat yang melatari pemunculan Undang Undang Guru adalah upaya perlindungan profesi guru berkait dengan urusan kompetensi guru. Sepanjang pengalamam penulis menjadi guru, ada kecenderungan siapa pun jika membincangkan kompetensi selalu menempatkan berseberangan dengan nilai-nilai kesabaran, keikhlasan dan pengendalian diri. Inilah yang dimaksud dengan kompetensi soft skill guru.
Cara memandang demikian, yakni mendikotomi antara soft skill guru dengan kompetensi akan membawa penilaian, bahwa yang berkaitan dengan kesabaran, keikhlasan dan pengendalian diri itu sifatnya suci, mulia atau berkaitan dengan pahala surgawi semata. Sementara itu, kompetensi tanpa melibatkan soft skill pun dianggap cukup dan lebih memiliki proyeksi finansial.
Akhir-akhir ini banyak berkembang sebuah stereotipe, dikotomisasi antara kepentingan tugas mengajar dan nilai-nilai kesabaran, keikhlasan dan pengendalian diri. Guru yang memilih keberhasilan di jalan peningkatan kinerja atau pemenuhan tugas mengajar cenderung berpikir, keberhasilan mengajar berbijak pada aspek pemenuhan administratif kedinasan. Akhirnya, mereka berlomba dalam perebutan kuota sertifikasi dan promosi kenaikan pangkat, tanpa harus memperhatikan kompetensi soft skill dalam prosesnya.
Sementara itu, dalam perspektif kebijakan pendidikan nasional, pemerintah telah merumuskan empat jenis kompetensi guru sebagaimana tercantum dalam Penjelasan Peraturan Pemerintah No 14 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional.
Sebagai pembanding, dari National Board for Professional Teaching Skill (2002) telah merumuskan standar kompetensi guru di Amerika, yang menjadi dasar bagi guru untuk mendapatkan sertifikasi guru.
Tulisan ini tidak bermaksud membicarakan akar perbedaan orientasi rumusan kompetensi tersebut. Tapi jelas, segala-nya itu bermula dari sikap ikhlas, sabar dan pengendalian diri di dalam mengemban tugas dan menghindari segala bentuk perbuatan yang melanggar kode etik guru.
Dalam kaitannya dengan topik tulisan ini, peningkatan soft skill, menjadi tugas penting bagi seorang guru di dalam mengemban tugas. Momen puasa Ramadan tentunya menjadi madrasah yang tepat untuk meningkatkan kualitas soft skill guru secara komprehensif.
Karena puasa, pada akhirnya, bertujuan melahirkan manusia-manusia yang secara rohani telah tercerahkan. Mereka yang telah tercerahkan itu akan mampu melihat tugas, amanah dan kewajiban dengan perasaan optimis, lebih tawakal dan percaya kepada kasih Tuhan serta lebih memiliki kesabaran dan keikhlasan dalam melakukan perubahan dan inovasi pembelajaran.
Dengan begitu, puasa memberikan kesempatan kepada kita untuk meningkatkan kompetensi dan martabat kita, baik di hadapan diri kita sendiri, keluarga, masyarakat, murid/anak didik maupun di hadapan Allah SWT. Dengan menjalankan puasa tidak hanya keempat kompetensi yang meningkat, yakni pedagogik, kepribadian, sosial dan profesional. Namun lebih dari itu, kekuatan niat, kesabaran, keikhlasan dan pengendalian diri yang menjadi bagian dari substansi puasa juga menjadi meningkat pula.
Semoga puasa kita tahun ini bisa mengantarkan kita sebagai guru atau pun orangtua yang memiliki kualitas ketakwaan yang tinggi serta memiliki niat dan ke-ikhlasan yang kuat untuk mencetak generasi yang kuat akidahnya, benar ibadahnya dan mulia budi pekertinya. q - o
*) Penulis, Guru SDIT Salsabila Banguntapan Bantul

Diupload oleh : hans (-) | Kategori: Berita Koran Pendidikan | Tanggal: 22-08-2011 09:38



Baca juga dalam Kategori yang Sama:






©2008 - 2015 Direktorat Jenderal Pendidikan Islam - Kementerian Agama Republik Indonesia
Halaman ini diproses dalam waktu 0.002322 detik