Rabu, 28 September 2016






Pemerintah Naikkan Bantuan Siswa Miskin

DEPOK - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) berencana menaikkan Bantuan Siswa Miskin (BSM). Hal itu dilakukan sebagai langkah percepatan program kerja Kemdikbud tahun 2012 serta antisipasi rencana kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM).
“Untuk SD yang tadinya Rp 360.000 menjadi Rp 450.000. Untuk SMP, tadinya Rp 580.000 menjadi sekitar Rp 700.000. SMA, SMK, MA, dari Rp 700.000 menjadi Rp 1 juta,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh, seusai membuka Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan (RNPK) 2012, di Pusat Pengembangan Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Depok, Jawa Barat.
Selain menaikkan unit cost, pihaknya juga akan menaikkan jumlah cakupan penerima bantuan siswa miskin. Saat ini penerima bantuan siswa miskin sekitar 12% dari total siswa. ”Jumlah penerima akan dinaikkan sekitar 23%. Kalau dulu mencakup siswa miskin, ke depan kami juga akan cover siswa yang hampir miskin,” ungkapnya.
Mendikbud menyadari rencana pemerintah menaikkan harga BBM akan berimplikasi langsung pada kehidupan masyarakat, termasuk dunia pendidikan. Karena itu, pihaknya mengantisipasi dengan menaik­kan unit cost serta cakupan penerimanya.
Rp 3,9 Triliun
Dia menjelaskan, saat ini anggaran untuk bantuan siswa miskin sekitar Rp 3,9 triliun. Jumlah itu sudah termasuk untuk program beasiswa Bidik Misi. Pihaknya sedang mengusulkan kenaikan anggaran tersebut, sehingga untuk meningkatkan bantuan siswa miskin dapat terealisasi.
“Usulan kenaikan itu akan masuk di APBNP sekitar Rp 2 triliun. Jadi, total bisa mencapai Rp 5 triliun - Rp 6 triliun untuk bantuan siswa miskin, termasuk mahasiswa,” ungkap Mendikbud.
Meski demikian, rencana kenaikan bantuan siswa miskin tidak akan memberikan dampak yang signifikan apabila dalam pelaksanaan masih terjadi kendala. Karena itu, dia berjanji akan memperbaiki kinerja jajarannya dengan harapan apa yang telah menjadi program pemerintah, khususnya dalam mendukung peningkatan dunia pendidikan, dapat berjalan lancar dan memberikan dampak yang maksimal, khususnya bagi siswa kurang mampu.
Nuh menambahkan, kebutuhan setiap siswa tidak sama besarannya. Kebutuhan tertinggi para siswa akan terjadi menjelang tahun ajaran baru, yakni pada bulan Mei-Juni.
“Tidak akan memberikan dampak signifikan kalau pelaksanaannya sering terlambat. Karena itu, kami harus bisa memastikan bantuan siswa miskin bisa cair sebelum kebutuhan anak-anak itu ada di titik puncak,” ujar mantan Rektor ITS itu. (K32-37)

Diupload oleh : hans (-) | Kategori: Berita Koran Pendidikan | Tanggal: 28-02-2012 09:23



Baca juga dalam Kategori yang Sama:






©2008 - 2015 Direktorat Jenderal Pendidikan Islam - Kementerian Agama Republik Indonesia
Halaman ini diproses dalam waktu 0.003725 detik