Direktorat Pendidikan Agama Islam

Kemenag Ingatkan Guru PAI SMA/SMK agar Tidak Bosan Kembangkan Kompetensi Digital

Bali (Direktorat PAI) -- Peraturan Menteri Agama Nomor 38 Tahun 2018 tentang Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) Guru, Pasal 5 ayat (1) menyebutkan bahwa komponen PKB Guru meliputi pengembangan diri, publikasi ilmiah, dan karya inovatif. Ketiga komponen tersebut seyogianya melekat pada pelaksanaan tugas sehari-hari seorang guru, khususnya Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI).

Terlebih di masa pandemi covid-19, dunia pendidikan di tanah air seolah dipaksa untuk melakukan adaptasi terhadap berbagai kondisi faktual dimana proses pembelajaran tatap muka tidak mungkin dilakukan guna menghambat laju penyebaran virus corona.

Hal tersebut disampaikan oleh Kasubdit PAI pada SMA/SMALB/SMK Abdullah Faqih, dalam kesempatan memberikan pembinaan kepada 40 orang GPAI SMA dan SMK peserta kegiatan Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PPKB) Zona I di Bali Paragon Resort Hotel, Kabupaten Badung, Provinsi Bali (18/05/2022).

Faqih menekankan pentingnya pemanfataan teknologi sebagai repons terhadap kondisi yang ada. “Pemanfaatan teknologi digital dalam mendukung aktivitas pembelajaran menjadi pilihan yang paling logis dilakukan agar kegiatan belajar mengajar dapat tetap berlangsung di tengah kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). GPAI dalam hal ini mau tidak mau dituntut untuk mampu responsif terhadap kenyataan tersebut,” jelasnya.

Di sisi lain, ia menilai, kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang kini dapat diakses oleh berbagai lapisan masyarakat, tidak terkecuali para pelajar sekolah, memberi tantangan tersendiri bagi GPAI dalam menghadirkan perspektif moralitas berdasarkan pada nilai-nilai agama melalui berbagai platform digital yang ada.

Kemasan pembelajaran PAI di sekolah perlu didesain sedemikian rupa agar sesuai dengan kebutuhan abad 21 dengan ide-ide inovatif. “Saat ini penggunaan teknologi digital sudah demikian masif. Anak-anak kita terkadang sudah tahu lebih dulu dari kita tentang suatu persoalan buah dari berselancar di dunia maya. Jangan sampai gurunya tertinggal, akibat kurang mengikuti perkembangan teknologi digital yang justru menjadi tren pembelajaran abad 21,” terangnya,

Faqih mengatakan, kompetensi digital yang mumpuni dari GPAI dapat memberi nilai lebih terhadap praktik pembelajaran PAI di mata peserta didik. Ia berharap, PAI bukan lagi dianggap sebagai mata pelajaran yang penting karena diwajibkan, tetapi juga dibutuhkan oleh peserta didik.

Para siswa pada akhirnya tidak terjebak pada konten-konten liar di sosial media walaupun tampilannya berbalut agama. Para siswa merasa terpuaskan oleh sang guru karena melihat berbagai sisi positif yang dimilikinya termasuk kepiawaian dalam menggunakan teknologi digital. “Kita tidak ingin peserta didik kita merujuk pada konten-konten liar yang tidak berdasar. Oleh karenanya, penguasaan kompetensi digital ini penting agar kemasan PAI menjadi menarik dan dibutuhkan oleh para siswa,” imbuhnya.

PPKB yang diselenggarakan oleh Direktorat Pendidikan Agama Islam memberikan perhatian terhadap peningkatan kompetensi digital bagi GPAI. Kegiatan pelatihan PPKB juga diarahkan pada upaya membangun ekosistem digital di lingkup PAI.

“Saya ingin PPKB PAI juga memperhatikan aspek penguatan kompetensi digital tanpa bermaksud mengabaikan aspek-aspek lainnya. Bapak/Ibu bisa bayangkan apa saja yang kira-kira dapat dilakukan atau dijangkau oleh PAI dengan pesan-pesan agamanya yang moderat melalui ekosistem digital yang terbentuk. Pastinya kita bisa melakukan banyak hal dengan teknologi digital ini,” pungkas Faqih.

Kegiatan Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PPKB) Zona I dilaksanakan selama 3 hari mulai tanggal 18 - 20 Mei 2022. Pada kegiatan ini, materi Moderasi Beragama juga diberikan kepada para peserta guna membekali GPAI dalam mengintegrasikan nilai-nilai moderasi beragama ke dalam pembelajaran PAI. Kegiatan diselenggarakan dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan sesuai anjuran Pemerintah. (Apri)

(01)