Direktorat Pendidikan Agama Islam

Direktur PAI: Kurikulum yang Baik Harus Memenuhi Kebutuhan Masyarakat

Makassar (Dit. PAI) -- Jika dihitung sejak tahun 1947 hingga 2013, kurikulum pendidikan Indonesia sudah mengalami kurang lebih sebelas kali pergantian. Pergantian tersebut adalah bagian dari respons terhadap perkembangan dan kebutuhan yang ada.

Demikian disampaikan oleh Direktur Pendidikan Agama Islam (PAI) Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Amrullah pada saat membuka kegiatan Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran PAI SD/SDLB Angkatan 2 di Makassar (1/6/2022).

Di depan 30 peserta dari 8 provinsi di Indonesia khususnya kawasan Indonesia Timur, Amrullah menjelaskan pentingnya pengembangan kurikulum dalam dunia pendidikan setiap jangka waktu tertentu.

“Dengan adanya pengembangan kurikulum, artinya pendidikan senantiasa menyesuaikan kondisi dan zaman. Kurikulum juga berubah karena disesuaikan dengan potensi anak didik kita. Kurikulum yang berubah akan mendorong guru untuk selalu update diri, demikian juga kepala sekolah agar senantiasa ikut mengawasi seberapa jauh kurikulum bisa menjadi pedoman atau bahan evaluasi sekolah,” urainya.

Ia menambahkan, perubahan kurikulum juga berguna bagi orang tua untuk mengetahui dan membantu anak didik agar bisa menguasai materi yang dipelajari. Bagi masyarakat, kurikulum yang baik adalah kurikulum yang sesuai kebutuhan masyarakat, misalnya dari sisi IT (information and technology) dan perannya yang multifungsi (mempelajari berbagai disiplin ilmu).

Lebih lanjut, Amrullah juga menjelaskan tentang konteks kerja sama dan pengembangan kurikulum PAI. “Program dan kegiatan Direktorat PAI dilaksanakan dengan upaya sinergi dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset dan Teknologi tentang Kurikulum Merdeka, tentunya dengan kekhasan dari Kementerian Agama yakni dengan meng-insersikan sembilan nilai moderasi beragama,” jelasnya.

Senada dengan Amrullah, Kepala Subdit PAI SD/SDLB, Ilham dalam laporannya mengatakan bahwa tujuan dari Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran PAI ini adalah untuk mensosialisasikan metode-metode baru dalam Kurikulum Merdeka.

“Kami menyelenggarakan dua angkatan untuk tujuan tersebut, angkatan 1 sudah dilaksanakan bulan April lalu untuk zona barat (Sumatera dan Jawa), sedangkan angkatan ke-2 untuk zona Indonesia Timur,” papar Ilham. (Wikan)

(01)