Direktorat Pendidikan Agama Islam

Sambut Digitalisasi PAK, Direktorat PAI Gelar Rapat Persiapan

Jakarta (Dit PAI) -- Digitalisasi Penilaian angka Kredit (PAK) menjadi pilihan kebijakan yang akan dijalankan Direktorat PAI. Langkah ini bukan hanya untuk memaksimalkan layanan Direktorat PAI, namun juga untuk memberikan kesempatan yang adil dan tranparansi layanan itu sendiri.

Hal demikian ditegaskan Direktur Pendidikan Agama Islam Amrullah pada Rapat persiapan penerapan digitalisasi PAK (PAK online) di Ruang Rapat Ditjen Pendidikan Islam Gedung Kementerian Agama, Jakarta (25/7).

"Digitalisasi menjadi sebuah keniscayaan yang perlu kita adaptasikan dalam program dan kebijakan kita, PAK salah satunya. Kami meyakini, langkah ini akan turut mendukung meluasnya akses terhadap layanan ini sekaligus mengedepankan tranparansi," terangnya.

Amrullah juga menekankan, digitalisasi PAK bukan merupakan langkah yang hanya mengikuti tren semata. Dirinya melihat aspek peningkatan layanan dan updating data yang diperlukan bagi proses pemenuhan kenaikan pangkat.

"Digitalisasi bukan soal sembarang asal online. Kita harapkan, Digitalisasi PAK memudahkan akses dan update data yang diperlukan guna memenuhi kualifikasi yang dipersyaratkan dalam proses kenaikan pangkat. Tidak ada sebuah kebijakan dan program yang lahir dengan instan dan serba mudah, termasuk digitalisasi PAK ini. Kita harus memiliki komitmen kerja sama yang kuat untuk mewujudkannya," jelas lulusan UIN Jakarta ini.

Hadir dalam rapat persiapan ini, Koordinator Bagian Asesmen dan Bina Pegawai Biro Kepegawaian, Analis Kepegawaian Madya Biro Kepegawaian, Kepala Subdit Pendidikan Dasar Direktorat Pendidikan Kristen Ditjen Bimas Kristen, Kepala Subdit Pendidikan Menengah Direktorat Pendidikan Kristen Ditjen Bimas Kristen, Kepala Subdit Pendidikan Dasar Direktorat Pendidikan Hindu Ditjen Bimas Hindu, JFAK Ahli Muda Buddha, Penyusun Program Peningkatan Pendidikan Katolik Ditjen Bimas Katolik, dan para Pengembang Teknologi Pendidikan (PTP) di lingkungan Direktorat Pendidikan Agama Islam.

Pelibatan unsur berbagai agama ini menjadi sebuah langkah yang ditempuh Direktorat Jenderal Pendidikan Islam guna efektivitas proses penilaian Angka Kredit Guru, mengingat pada layanan bimbingan Masyarakat (Bimas) agama-agama tersebut terdapat layanan pendidikan pada berbagai jenjang.

"Kami ajak rekan rekan dari Bimas Kristen, Katolik, Budha, dan Hindhu, untuk terlibat dalam proses PAK seperti yang biasa kami jalankan dan rencana digitalisasi PAK ini, karena kita memiliki urusan yang sama dalam layanan guru agama dan pendidikan agama secara umum. Selama ini Ditjen Pendidikan Islam memberikan dukungan terhadap proses PAK guru agama di luar Ditjen Pendidikan Islam, " jelas Kasubdit PAI pada SMP/SMPLB Agus Sholeh.

Dalam laporannya, Agus Sholeh memberikan gambaran rancangan PAK Direktorat PAI. "Subdit PAI pada SMP/SMPLB memiliki tugas tambahan mengelola PAK Guru dan Pengawas PAI semua jenjang. Amanah ini perlu dikelola dengan optimal, di antaranya dengan adaptasi terhadap perkembangan, salah satunya adalah digitalisasi," ujarnya.
Selain itu, Agus menegaskan, digitalisasi PAK penting untuk meningkatkan efektivitas proses dan tata kelola PAK. "Digitalisasi PAK akan mendorong efektivitas proses bisnis PAK dan meminimalisir kemungkinan dan dugaan negatif. Dengan sendirinya, hal ini membutuhkan banyak kesiapan dari semua pihak," tuturnya.

Sementara itu, dalam paparannya, kepala bagian asesmen Asroi menjelaskan, digitalisasi berperan penting dalam memangkas alur kerja penilaian angka kredit. "Kami pernah menghitung, berapa hektare (pohon pinus sebagai bahan kertas) yang harus ditebang untuk keperluan pemberkasan fisik PAK setiap tahunnya oleh sekian banyak pengajunya. Era paperless sudah dimulai, salah satunya kita kenal dengan digitalisasi layanan," papar Asroi.

Meski demikian, dalam konteks layanan digitalisasi PAK ini, Asroi tidak melihat pentingnya aplikasi baru yang khusus dipergunakan untuk PAK. "Tidak diperlukan adanya aplikasi baru untuk PAK. Kita maksimalkan Simpeg 5 sebagai elemen dasar digitalisasi PAK ini. Bentuknya adalah dengan memudahkan akses dan layanan digitalisasi dokumen untuk diunggah ke Simpeg 5. Membuat aplikasi baru untuk PAK, selain memakan biaya, juga membutuhkan waktu yang tudak sebentar " jelasnya.

Memberikan keterangan dan penjelasan terkait PAK ini, Analis Kepegawaian Madya Biro Kepegawaian Iksan Sugiarto memberikan pandangannya. "PAK secara online atau digitalisasi PAK ini telah kita jalankan di Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Ditjen Pendidikan Islam belum lama ini. Sebagai langkah baru, pelaksanaan PAK online di GTK mengalami berbagai kendala. Kita perlu belajar dan mengambil hikmah dari pelaksanaan PAK online di GTK," katanya.

Hal senada disampaikan PTP Ahli Muda pada Seksi Ketenagaan Subdit PAI pada SMP/SMPLB Hasan Basri. Ia menegaskan pentingnya kesiapan semua pihak untuk menyiapkan diri menjelang digitalisasi PAK. "Kami berharap, semua pihak terkait dapat menyiapkan diri untuk digitalisasi PAK ini. Mindset digital diperlukan sebagai dasar pelaksanaan rencana ini. Semoga, semua pihak terkait PAK GPAI dapat membangun kerja sama dan kesepahaman yang positif untuk pelaksanan digitalisasi PAK ini," pungkas alumni UI ini. (Hasan/SubditSMP/SMPLB)

(SubditSMP)