Direktorat Pendidikan Agama Islam

Mewujudkan Indonesia Emas melalui Moderasi Beragama

Malang (Dit. PAI) – Demikianlah ringkasan yang disampaikan Alissa Wahid, Konsultan Tim Moderasi Beragama Kemenag saat memberikan penguatan Moderasi Beragama kepada mahasiswa dan dosen PAI melalui kegiatan Basic Leadership Training Moderasi Beragama Mahasiswa Islam pada Perguruan Tinggi Umum (PTU) di Malang, 27-29 Juli 2022. Hadir secara daring, Alissa meyampaikan di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) terdapat persiapan menuju Indonesia Emas 2045 dengan harapan Indonesia menjadi negara yang berdaulat, maju, adil dan Makmur.

Menurutnya, tujuan bernegara yang menjadi landasan utama dalam Undang-Undang 1945 adalah negara dan bangsa yang adil, makmur dan sentosa. Keadilan tersebut erat kaitannya dengan praktik moderasi beragama. “Keadilan itu bukan pemanis, bukan sesuatu yang sifatnya abstrak, tapi dia adalah tujuan atau landasan kita dalam hidup berbangsa dan bernegara. Itu nanti erat kaitannya kenapa kita mengembangkan praktek beragama yang moderat,” jelas Alissa melalui zoom meeting di hadapan 220 mahasiswa dan dosen PAI pada Perguruan Tinggi Umum, Kamis (28/7/2022).

Alissa menguraikan didalam RPJMN 2020-2024 disebutkan Sumber Daya Manusia yang diharapkan adalah manusia pancasilais yang unggul, berkualitas dan berdaya saing. Dimana mereka memiliki nilai-nilai kebangsaan, nilai integritas, etos kerja dan gotong royong. Seseorang yang memiliki jiwa pancasilais maka secara otomatis ia akan menjadi manusia yang spiritualis, karena sila pertama dalam Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Sehingga ketika seseorang bersikap tidak adil akan menjadi tantangan yang luar biasa terhadap gagasan tentang Indonesia itu sendiri.

Putri Presiden Keempat Republik Indonesia ini juga mengingatkan bahwa Indonesia ada karena Keberagaman. Kemerdekaan negara diraih karena adanya persatuan dan kesatuan bangsa. “Keberagaman adalah alasan keberadaan Indonesia, kalau tidak ada keberagaman tidak ada 71 universitas yang hadir disini karena tidak mungkin kita satu negara. Justru pada tahun 1945 ketika kita memutuskan untuk merdeka kita merdeka bersama-sama, maka kita memilih gagasan yang namanya Indonesia,” paparnya.

Lebih lanjut, Alissa menjelaskan Indonesia adalah sebuah gagasan yang mempersatukan keberagaman. Beragam suku, ras, budaya dan bahasa disatukan dalam satu Indonesia sehingga upaya merawat keberagaman tersebut adalah keadilan.

“Indonesia itu hanya sebuah gagasan yang mengikat kita, kenapa perlu diikat karena Indonesia beragam. Disisi ini kita merayakan keberagaman, tapi pada saat yang sama kita kembali ke prinsip dasar kita yaitu adil,” sambungnya.

Alissa berharap anak muda Indonesia bersama-sama mengambil peran dan kepedulian untuk mewujudkan tujuan bangsa. Jiwa kepemimpinan, kepedulian dan adil harus dimiliki generasi penerus bagsa sehingga perwujudan Indonesia Emas 2045 dapat diraih.

“Saya sangat meyakini kalau teman-teman siap mengambil kepemimpinan maka Indonesia berada di jalur yang tepat. Kalau kita ketemu anak muda yang hanya memikirkan diri sendiri maka Indonesia ada di jalur yang tidak tepat. Saya yakin kita bisa mewujudkan adil, makmur dan sentosa, saya titipkan Indonesia di tangan teman-teman semua,” pungkasnya.


(Miftah)