Direktorat Pendidikan Agama Islam

Kemana Arah Pendidikan Indonesia?

Sudarjat, M.Pd

Guru SMAN 1 Cijeruk

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Demikian definisi pendidikan menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Dari definisi tersebut, dapat diambil tiga kata penting, di antaranya usaha sadar, suasana belajar, dan mengembangkan potensi. Usaha sadar adalah usaha yang dilakukan secara sadar oleh orang dewasa untuk mewujudkan suasana belajar agar peserta didik secara aktif dapat mengembangkan potensi dirinya.

Suasana belajar yang kemudian dikatakan lingkungan belajar meliputi lingkungan sekolah, lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat. Dari sini lahirlah trilogi pendidikan, dimana proses pendidikan tidak hanya menjadi ranah pekerjaan lembaga sekolah. Jika diurai ke dalam potensi peserta didik yang meliputi sikap, pengetahuan dan keterampilan, maka masing-masing pihak dapat menjadi fokus pengembangan. Keluarga fokus pada pengembangan sikap, sekolah fokus pada pengembangan pengetahuan, dan lingkungan fokus pada pengembangan keterampilan.

Memahami pendidikan tentu tidak akan terlepas dari tujuan pendidikan. UU Sistem Pendidikan Nasional mengamanatkan tujuan pendidikan di Indonesia yaitu mengembangkan potensi peserta didik untuk menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada tuhan yang maha esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Sepuluh karakter manusia paripurna yang semestinya dihapal dan dipahami oleh seluruh anak bangsa terutama dunia pendidikan.

Sepuluh tujuan pendidikan ini tentu harus diturunkan menjadi indikator-indikator pencapaian yang dapat diukur. Indikator-indikator itulah yang kemudian menjadi panduan seluruh pemangku kepentingan pendidikan, terutama guru memandu peserta didik agar sampai pada tujuan yang dicita-citakan.

Manusia beriman adalah manusia yang mempercayai dan meyakini keberadaan tuhan dimanapun dia berada dan dalam kondisi apapun. Manusia beriman tidak akan pernah melakukan perbuatan tercela, karena dalam setiap detiknya dia merasa diawasi dan bersama tuhannya. Perbuatan-perbuatan tercela secara hakikat menunjukkan bahwa manusia tidak mempercayai tuhannya. Orang yang percaya keberadaan tuhan, tidak akan pernah bisa bersembunyi dimanapun. Dia yakin selalu bersama tuhannya. Pendidikan harus dapat menanamkan karakter ini pada setiap peserta didiknya.

Manusia yang bertakwa kepada Tuhannya akan selalu melakukan apa yang diperintahkan Tuhan dan menjauhi apa yang dilarang Tuhan. Itulah takwa, imtitsaalu awamirillah wajtinaabu nawaahih patuh pada setiap perintah, dan menjauhi larangan). Setiap manusia telah diberikan potensi berupa sensor kebajikan yang tertanam dalam hatinya. Setiap manusia akan melakukan suatu kejahatan, akan selalu ada bisikan yang mengingatkan. Itulah sensor ketuhanan yang ditanam secara fitrah pada setiap manusia. Yang luar biasanya lagi, sensor kebajikan ini dimiliki oleh setiap manusia, apakah dia bisa baca tulis ataupun tidak. Karena kerakusan dan egoisme dirinya, manusia mengabaikan sinyal-sinyal kebajikan tersebut.

Berakhlak mulia adalah menunjukkan perilaku (tampilan) yang mulia. Dalam hal ini manusia yang berkahlak mulia tidak akan merugikan pihak lain baik itu sesama manusia ataupun alam semesta. Kunci dari akhlak mulia adalah rasa cinta dan kasih sayang. Ketika seseorang diliputi oleh rasa cinta dan kasih sayang, maka akan lahir perilaku penuh kelembutan dan kedamaian.

Cinta dan kasih sayang yang tertanam pada manusia, akan mendorong perilaku mulia, perilaku yang menyenangkan pada sesama dan alam semesta. Manusia yang memiliki rasa cinta dan kasih sayang pada sungai, tidak akan rela melihat sungai yang kotor. Akhlak mulia hadir dari kesadaran akan tugas dan fungsi manusia sebagai khalifah (pelayan) alam semesta. Hakikat manusia adalah pelayan bagi mahkluk Allah yang lain. Pelayan sungai, pelayan manusia, pelayan suami, pelayan istri, pelayan anak, pelayan murid, pelayan binatang, pelayan pemerintah, pelayan rakyat, pelayan semua makhluk.

Tugas utama seorang pelayan adalah melayani sehingga yang dilayani merasa bahagia. Bagaimana melayani tumbuhan agar bahagia? Bagaimana melayani sungai agar bahagia? Seperti apakah tumbuhan yang bahagia? Seperti apakah sungai yang bahagia?

Tumbuhan yang bahagia adalah tumbuhan yang memunculkan rasa bahagia pada manusia yang memandangnya, dialah tumbuhan yang subur dan berbuah lebat. Membahagiakan tumbuhan adalah melayaninya agar tumbuh subur dan berbuah lebat.

Kebahagiaan sungai adalah sungai yang memunculkan rasa bahagia pada manusia, dialah sungai yang bersih, airnya jernih yang membuat manusia betah berlama-lama bersamanya. Membahagiakan sungai adalah melayaninya agar menjadi bersih dan jernih.

Indikator kebahagiaan makhluk yang lain adalah kebahagiaan pada manusia. Inilah kelebihan manusia sebagai pemimpin alam semesta. Sebuah siklus kebahagiaan settingan tuhan. Manusia melayani makhluk yang lain agar berbahagia, kebahagiaan mereka memunculkan kebahagiaan pada manusia. Maka manusia yang berakhlak mulia harus memiliki jiwa melayani makhluk lain agar mereka bahagia.

Sehat berarti tidak penyakitan, lincah, riang, dan ceria. Untuk membentuk peserta didik yang sehat tentu diperlukan pendidikan raga berupa makanan sehat dan olah raga. Dalam implementasinya, kantin sehat dan olah raga menjadi prioritas penting dalam proses pendidikan.

Berilmu bermakna memiliki pengetahuan yang mumpuni, dalam bahasa sederhananya dapat dikatakan segala tahu, memiliki wawasan yang luas. Dalam membentuk karakter ini, budaya literasi menjadi prasarat penting. Peserta didik yang memiliki karakter literate akan dengan mudah mencari solusi terhadap pengetahuan yang belum mereka ketahui.

Cakap bermakna terampil. Peserta didik yang cakap akan mampu menyelesaikan tugas-tugas mereka dengan baik. Untuk memiliki karater ini, peserta didik membutuhkan latihan-latihan penyelesaian tugas. Dalam implementasinya, project based learning menjadi pendekatan pembelajaran yang wajib dilakukan. Dengan banyak latihan menyelesaikan beberapa level penugasan, peserta didik akan lulus dengan portofolio yang terukur.

Kreatif bermakna banyak akal. Peserta didik yang kreatif akan mampu menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang dihadapi. Dia banyak akalnya. Untuk membentuk karakter ini, dibutuhkan suasana belajar penuh masalah. Maka tugas guru adalah membuat masalah yang diselesaikan oleh peserta didik. Dalam hal ini, guru bertindak tut wuri handayani.

Mandiri bermakna mampu sendiri, tidak bergantung pada orang lain. Peserta didik yang mandiri akan mampu menyelesaikan permasalahan hidupnya tanpa merepotkan orang lain. Untuk membentuk karakter mandiri, tentu guru harus betindak sebagai pendamping. Membiasakan peserta didik menyelesaikan masalah dan tugasnya secara mandiri, tentu dengan pengawasan yang edukatif.

Demokratis bermakna tidak memaksakan kehendak pada orang lain, bermakna juga menghargai perbedaan. Perbedaan dalam kehidupan adalah sesuatu yang mutlak. Itulah sunnatullah, tuhan mencipta segala sesuatu dalam hidup ini berbeda. Mengharapkan orang lain sama dengan diri kita adalah sebuah ketidakterimaan terhadap kehendak tuhan. Kesadaran akan kehendak tuhan inilah yang perlu ditanamkan pada peserta didik. “Kalau tuhan maunya begitu, kita mau apa?”.

Kesadaran akan kehendak tuhan inilah yang akan membuat manusia lebih melihat dirinya sendiri, tidak usil dengan urusan orang lain. Karakter saling menghargai akan tertanam pada peserta didik dan tujuan menjadi warga negara yang demokratis akan tercapai.

Tanggung jawab bermakna siap menerima konsekuensi terhadap langkah yang diambil. Dalam konteks agama disebut dengan amanah. Sikap tanggung jawab akan melahirkan karakter dapat dipercaya. Dalam implementasinya, membentuk karakter tanggung jawab tentu dengan cara memberi amanah kepada peserta didik. Kepercayaan pada peserta didik perlu dimiliki oleh guru dan orang tua. Penyerahan beberapa tugas dengan pemantauan guru atau orang tua perlu dilakukan untuk membentuk karakter tanggung jawab.

Selain itu, dalam implementasinya dapat menggunakan buku penghubung tanggung jawab, dimana peserta didik melaporkan setiap kegiatan yang mereka lakukan di sekolah kepada orang tuanya dalam buku tersebut.

Untuk dapat mengukur ketercapaian tujuan pendidikan nasional ini, diperlukan sebuah instrumen pengukuran yang digunakan untuk mengukur pada awal masa pendidikan dan akhir pendidikan. Instrumen pengukuran tersebut dapat berbentuk angket atau lembar observasi. Dengan melakukan pengukuran di awal dan di akhir dapat diketahui persentase kenaikan nilai karakter dari setiap peserta didik.

Editor: Saiful Maarif

(01)