Direktorat Pendidikan Agama Islam

Direktur PAI: Pembuatan Soal Ujian Sekolah Harus Mengacu pada Standar

Bandung ( Direktorat PAI) -- Direktorat Pendidikan Agama Islam (PAI), Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama RI menyelenggarakan kegiatan lanjutan penyusunan kisi-kisi soal ujian sekolah (US) yakni “Pembuatan Soal Ujian Tingkat Dasar dan Menengah Angkatan 1” yang diikuti oleh 30 peserta guru PAI seluruh Indonesia dari tiga jenjang yakni SD, SMP, dan SMA/K.

Kegiatan yang dilaksanakan di Bandung pada 14-16 September 2022 ini dibuka oleh Direktur PAI, Amrullah, secara online. Dalam prakatanya, direktur menyambut baik kegiatan pembuatan soal sebagai kelanjutan dari penyusunan kisi-kisi soal.

“Mulai tahun 2019 tidak ada lagi Ujian Nasional, akan tetapi Direktorat PAI tetap memfasilitasi agar ujian yang diserahkan kepada sekolah masing-masing tetap mengacu kepada standar penilaian, sehingga soal yang diujikan memang berkualitas,” ujarnya.

Dalam kaitan ini, Amrullah menekankan mengenai standar penyusunan kisi-kisi soal Ujian Sekolah PAI. “ Kami tetap memberikan standar agar tidak sembarangan dalam membuat soal. Salah satu standar yang menjadi ketentuan baku adalah mengacu kepada kisi-kisi. Namun selain standar yang meliputi soal-soal tersebut, standar yang tak kalah penting adalah standar bagi para gurunya juga terutama yang membuat soal,” sambungnya.

Muhamad Nasir, selaku penanggung jawab kegiatan mengatakan bahwa pembuatan soal ujian tingkat dasar dan menengah ini dibagi dalam dua angkatan. Harapannya, angkatan kedua nanti akan semakin meningkatkan kualitas soal-soal yang dihasilkan.

Dalam kegiatan di hari pertama, narasumber acara yang juga seorang pakar evaluasi pendidikan dari Pusat Riset Pendidikan, unit kerja Biro Organisasi dan Sumber Daya Manusia, BRIN yakni Safari menjelaskan lima prinsip penulisan soal, yakni pertama, valid, yakni mengujikan materi atau kompetensi yang tepat. Kedua, reliabel artinya konsisten hasil pengukurannya. Ketiga, fair, yakni tidak merugikan pihak tertentu. Keempat transparan, di mana jelas apa yang diujikan, tugasnya dan kriteria pen-skorannya. Terakhir,yakni otentik , yakni sesuai dengan dunia riil atau dunia nyata. (Wikan)

(01/SM)