Direktorat Pendidikan Agama Islam

Pemanfaatan Triangle Watchlist Android-Based untuk Pemantauan Ibadah Salat Siswa




Oleh : Umma Farida, S.Ag., M.Pd.I (Guru Pendidikan Agama Islam SMP Negeri 13 Surakarta)




Salat fardu yang merupakan salah satu bentuk ibadah utama yang diperintahkan Allah SWT kepada ummat Islam hendaknya menjadi identitas dan kebiasaan seorang yang mengaku muslim. Salat diperintahkan oleh Allah SWT untuk membentuk kepribadian seorang muslim yang tangguh. Dalam salat, Allah mengajarkan hidup disiplin, sabar, bermasyarakat, hidup sehat, hidup bersih lahir dan batin, menahan dan pengendalian diri, dan berkomunikasi dengan Sang Khaliknya.

Salat merupkan suatu bentuk ibadah yang di dalamnya terdapat sebuah amalan yang tersusun dari beberapa ucapan dan perbuatan yang diawali dengan takbiratul ikhram dan diakhiri dengan salam, dan dilakukan sesuai dengan syarat maupun rukun salat yang telah ditentukan (Imam Bashari Assayuthi, 30). Salat terdiri dari salat fardu (wajib) dan salat sunnah. Salat fardu (wajib) sendiri terdiri atas 5 waktu antara lain subuh, dzuhur, ashar, maghrib dan isya’. Salat dapat membentuk kecerdasan spiritual bagi siapa saja yang melakukannya (Agustian, 2001).

Selain itu, mempelajari salat merupakan kewajiban bagi setiap muslim karena salat adalah bentuk pengabdian manusia kepada Allah SWT yang wajib dilaksanakan agar di dalam setiap kegiatannya selalu diberikan keberkahan, kebaikan, kemudahan, dan jalan keluar dari kesulitan yang menimpa.

Menurut Imam Ja’far Al-Shadiq, manfaat melaksanakan salat antara lain mengajarkan kita untuk selalu mengawali suatu perbuatan dengan niat yang baik, tercermin dari niat tiap memulai salat. Selain itu, manfaat salat yang lainnya adalah dapat memperkuat iman, membangun akhlak, moralitas yang tinggi, ajaran kesabaran, dan dapat mencegah dari segala perbuatan yang keji dan mungkar (QS. Al-Ankabut/29:45).

Menimbang hal demikian, anak-anak perlu diajarkan untuk melaksanakan salat fardu (wajib) 5 waktu sejak dini. Hal ini termasuk dalam salah satu ajaran kebaikan sebagai landasan agama dan pendidikan karakter bagi anak-anak. Tujuan dari mengajarkan salat fardu (wajib) 5 waktu sejak dini adalah agar anak menjadi simpatik dan terbiasa melakukan salat sejak usia dini, sehingga mudah baginya kelak dalam melaksanakan salat di usia dewasa (Syarhus Sunnah, 2/406).

Demikian juga untuk anak usia remaja anak usia setingkat SMP, usia seorang anak yang dikenal sebagai kondisi sudah Mumayyis; Mumayyiz adalah anak kecil yang sudah mampu makan, minum, dan bersuci sendiri, dan bisa membedakan sesuatu yang bermanfaat atau bahaya bagi dirinya, bahkan sudah ada beberapa yang pada usia baligh. Baligh adalah momentum ketika anak sudah mengalami mimpi basah dan menstruasi bagi wanita atau telah mencapai usia 15 tahun. Karena itu, saat anak baligh dan memiliki akal sehat, menjadi wajib bag mereka melaksanakan salat dan ibadah lainnya.

Pada kenyataannya, pelaksanaan salat fardu masih minim dilaksanakan oleh remaja. Beberapa faktor yang diduga sebagai penyebab terjadinya hal itu antara lain tingkat kesadaran peserta didik dalam menjalankan salat fardu sangat rendah, lingkungan keluarga yang tidak mendukung kesadaran peserta didik dalam menjalankan salat fardu, dan rendahnya hubungan kumunikasi antara guru, peserta didik dan orang tua.

Diakui atau tidak, banyak orang tua yang tidak memperhatikan ibadah putra putrinya, terlebih di wilayah perkotaan di mana orang tua banyak yang sibuk dengan pekerjaan, dan anak yang sering lalai dalam salat karena sibuk bermain gadget. Orang tua maupun anak sama-sama sibuk dengan gadget dengan urusan masing masing.

Pemanfaatan Gadget dan Platform Android

Kondisi keluarga yang sangat terpangaruh gadget tersebut hampir terjadi pada sebagian besar keluarga. Dengan kondisi tersebut, kita mencoba menggunakan gadged sebagai media untuk berkomukikasi dua arah dengan orang tua peserta didik.

Gadget adalah sebuah istilah yang berasal dari bahasa Inggris, yang artinya perangkat elektronik kecil yang memiliki fungsi khusus. Dalam bahasa Indonesia, gadget disebut sebagai “acang”. Salah satu hal yang membedakan gadget dengan perangkat elektronik lainnya adalah unsur “kebaruan”.

Artinya, dari hari ke hari gadget selalu muncul dengan menyajikan teknologi terbaru yang membuat hidup manusia menjadi lebih praktis. Contoh-contoh dari gadget di antaranya telepon pintar (smartphone) dan netbook (perpaduan antara komputer portabel seperti notebook dan tab).

Gadget atau smartphone mempunyai salah satu sistem perangkat yang pendukungnya, yaitu android. Android berfungsi untuk mengelola sumber daya perangkat seperti memory dan disk space.

Triangle Watchlist

Andoroid dapat dikembangkan lebih jauh sebagai sarana pendukung proses pembelajaran. Disini kita memanfaatkan media komunikasi Android dengan membuat Grup WhatsApp antara guru dan wali murid, dengan melakukan bimbingan guru dan juga orang tua menggunakan Triangle watchlist berbasis Android. Di dalamnya, peserta didik membuat pantauan salat berupa buku yang setiap hari ditanda tangani oleh orang tua.

Triangle menurut kamus inggris – Indonesia adalah segitiga, sedangkan Watchlist menurut kamus inggris- Indonesia adalah pantauan. Jadi Triangle watchlist yang dimaksud adalah pantauan segi tiga. Dalam hubungan Triangle watchlist, peserta didik membuat buku pantauan salat fardu yang dapat dipantau oleh orang tua dan guru.

Dalam relasi ini, peserta didik didudukkan sebagai pelaksana, orang tua sebagai penanggung jawab, dan guru sebagai penilai. Dalam buku pantauan salat, orang tua turut bertanggung jawab atas anak mereka dalam mengerjakan ibadah salat fardu.

Triangle watchlist berbasis Android adalah hubungan segi tiga yang digunakan untuk memantau kegiatan peseta didik menggunakan platform Andoid. Aplikasi ini sudah dijalankan di SMPN 13 Surakarta. Dengan penggunakan Android untuk pembuatan grup WatsApp yang beranggotakan orang tua dan guru dan kegiatan pemantauan salat pada peserta didik dilakukan 24 jam sehari.

Pembiasaan pelaksanaan salat fardu yang dilakukan di sekolah dilaksanakan dengan memastikan semua peserta didik sudah menghafal semua bacaan salat dan tata cara bersuci. Sebelum memulai pelajaran, peserta didik melakukan pembiasaan membaca bacaan salat bersama sama.

Diharapkan, peserta didik yang tidak begitu hafal bacaan salat karena setiap hari mendengar bacaan salat lama lama menjadi hafal, demikian halnya untuk cara berwudhu. Untuk pengecekan pantauan salat dan juga penilaian dilakukan satu minggu satu kali ketika tatap muka dalam proses belajar mengajar komunikasi antara guru dengan peserta.
Di dalam buku pantauan salat tersebut berisikan tabel pelaksanaan salat fardu peserta didik ketika di rumah selama satu minggu. Di buku pantauan salat tersebut terdapat tanda tangan orang tua sebagai bukti bahwa orang tua memperhatikan dan yakin putra putrinya telah melaksanakan salat fardu secara tertib.

Bisa jadi akan terlihat masih banyak peserta didik yang tidak tertib dalam melaksanakan salat fardu di rumah atau terdapat orang tua yang tidak menandatangani buku pantauan salat. Untuk mengatasi hal tersebut guru membuat Grup WhatsApp untuk melakukan komunikasi dengan orang tua peserta didik.

WhatsApp Grup tersebut beranggotakan orang tua dalam satu kelas khusus yang beragama Islam. Melalui WhatsApp Grup tersebut, guru selalu dapat mengingatkan orang tua untuk memantau salat putra-putrinya dan menandatangani buku pantauan salatnya.

Dari apa yang sudah dijalankan, dari respons orang tua peserta didik, terlihat dari buku pantauan salat putra putrinya, menandakan kalau putra putrinya sudah melakukan salat dan hal tersebut memenjadi kebanggaan orang tua. Guru juga memberi umpan balik yang positif komentar yang posisif baik di WhatsApp Grup ataupun ditulis langsung di buku pantauan salat.

Dari pelaksanaan Triangle watchlist berbasis Android di SMPN 13 Surakarta terlihat bahwa komunikasi antara guru, orang tua, dan peserta didik bisa berjalan dengan baik dan motivasi peserta didik dalam melaksanakan salat fardu bisa meningkat dan berjalan dengan tertib.

Pengumpul Bahan: Arief Hilaluzzaman

Editor: Saiful Maarif



(01/SM)