Direktur Jenderal Pendidikan Islam Muhammad Ali Ramdhani

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Muhammad Ali Ramdhani

Surabaya (Pendis) - Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Ditjen Pendis) melalui Direktorat Kurikulum Sarana Kelembagaan dan Kesiswaan menyelenggarakan kegiatan Workshop Literasi Sejarah Santri dan Pemuda Madrasah pada tanggal 20 sampai dengan 23 Oktober 2023 di Surabaya, Jawa Timur.

Kegiatan yang bertujuan untuk melakukan konsinyering pelaksanaan proyek REP MEQR (33) dilaksanakan dengan menghadirkan para kepala Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia dan Madrasah Aliyah Negeri Program Unggulan. 



Direktur Jenderal Pendidikan Islam Muhammad Ali Ramdhani memaparkan dan memberikan arahan tentang urgensi pengelolaan madrasah guna membentuk madrasah unggul dan berdaya saing.

Dikatakan Ramdhani, muara dari segala ikhtiar pembinaan para guru dan tenaga kependidikan ini adalah pada terciptanya taraf dan kualitas pendidikan rakyat Indonesia yang baik, peran kebudayaan dalam pembangunan, kesehatan dan kualitas hidup yang semakin baik, ada sumbangan ilmu pengetahaun dan teknologi pada pembangunan yang signifikan dan reformasi ketenagakerjaan.

Reformasi ketenagaan ini berkaitan dengan mendidik anak bangsa kita dengan profesi yang belum diketahui dan menggunakan teknologi yang sekarang belum dibuat. 

Hal tersebut menimbulkan urgensi terhadap kemampuan adaptasi para peserta didik dalam menghadapi dinamika perkembangan zaman.

“Mempersiapkan anak-anak yang memiliki daya adaptasi yang tinggi yang merupakan bagian dari tujuan kegiatan konsinyering ini,” tandasnya di Surabaya (21/10).

Guru besar UIN Bandung ini juga menyampaikan teori gubahannya dari the OECD learning framework 2030 yang menjadi Islamic Framework. 

Menurut Ramdhani, untuk menciptakan kesejahteraan baik secara individu maupun social, adalah mereka yang memiliki kompetensi yang ditopang oleh: Knowledge yang kokoh, Skills yang mumpuni, memiliki Attitudes and Values yang baik. 

Skill tersebut menonjolkan mereka yang mampu berekonsiliasi dengan tekanan, dinamika dan dilema pada zaman mereka dengan transformasi dan internalisasi nilai-nilai literasi finansial, kesehatan, numerik, digital dan keagamaan. 

Sebagai tambahan, lanjut Ramdhani pada masa yang akan datang, bidang apapun yang digeluti oleh para siswa kita, kebutuhan seseorang ketika tumbuh dan berkembang dalam memenuhi kebutuhan adalah mereka yang mampu dan memiliki kemampuan collaboration, creativity, critical thinking, citizenship, character, communication yang baik.

Harapan bahwa karya-karya para guru dapat menghasilkan hal monumental terutama dalam hal membangun anak-anak bangsa sebagai pemilik pada dinamika zamannya. 

“Semoga ikhtiar-ikhtiar bangsa untuk melahirkan anak-anak bangsa yang mampu membingkai segala sesuatu melalui kompetensi secara utuh, tidak sekedar kompetensi yang sifatnya hanya physical tapi juga nilai-nilai yang sifatnya substantive, yaitu nilai-nilai spiritual,” tutupnya.