Iqra dan Semangat Berliterasi

Illustrasi Foto (Direktorat PAI Kemenag)



Oleh: Epon Maptuhah, M.Ag

(Guru PAIBP SMPN 2 Garut Jawa Barat)


Di dalam sejarah turunnya Al-Qur’an, surat dan ayat pertama yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW adalah surat Al-Alaq ayat 1-5. Adapun bunyi ayat pertamanya adalah: Iqra' bismi rabbikal ladzi khalaq yang terjemahan secara umum, dari berbagai terjemah Al-Qur’an, artinya adalah bacalah atas nama Tuhanmu yang menciptakan.

Dari berbagai referensi yang didapat, pada firman Allah “Iqra' bismi rabbikal ladzi khalaq” adalah isyarat yang mengajarkan bahwa kunci utama dari kemajuan dan perkembangan suatu peradaban (dalam pandangan Islam) adalah dengan ilmu pengatahuan Hal tersebut didasari dengan asumsi perintah membaca yang langsung dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW merupakan isyarat kepada umat Islam untuk berliterasi.

Dengan demikian, semangat mencari ilmu merupakan modal utama kemajuan suatu bangsa. Bangsa yang hebat dibangun sumber daya manusianya terlebih dahulu bukan pada pembangunan fisik saja atau bukan pada kemajuan kekayaan dan kekuatan pertahanan.

Sedikit bisa kita lihat penjelasan tentang Iqra. Iqra (bacalah) adalah kata pertama yang diwahyukan kepada Rasulullah Muhammad SAW, perhatikan isyarat yang terkandung didalamnya, dan susunan hurufnya : qiraah: membaca , : ruqya : meninggi ,ruqyah : mengobati, dari tiga kata ini masing-masing memilki sejumlah huruf yang sama, dan maknanya pun saling berkaitan satu sama lainnya, maka qira’ah mengandung makna : pintu ilmu (membaca), dan itu merupakan sesuatu yang dapat meninggikan derajat seseorang.

Dalam potongan salah satu ayat pada surat Al Mujadalah ayat 11 Allah SWT berfirman : “Yarfaillahulladzina aamanu minkum walladzina utul ilma darojat” juga berarti “arruqya” keduanya berarti tinggi, adapun kata “arruqyah” berarti pengobatan ruqyah dengan bacaan-bacaan yang diajarkan syari'at, sungguh menakjubkan Al-Qur'an ini! 4 huruf yang merupakan kunci terbangunnya peradaban sebuah bangsa.

Sungguh tidak bisa diragukan lagi bagi kita, berliterasi adalah mengemban Amanah kemanusiaan kita sekaligus penghambaan kita sebagai mkhluk kepada Rabb-Nya. Perintah Allah yang pertama kepada manusia adalah membaca atau belajar apa yang ada di sekitar untuk diri sendiri kemudian untuk orang lain. Begitu pentingnya membaca hingga Allah memerintahkan langsung kepada manusia untuk membaca agar kita mengetahui dan memahami sehingga bisa mengajarkannya kembali kepada orang lain.

Dalam hal ini, gerakan literasi yang digaungkan sejak 2015 lewat Gerakan Literasi Nasional (GLN) menurut hemat saya merupakan cara membumikan wahyu Allah Swt ayat pertama tersebut. Sekarang pun GLN Gareulis Jawa Barat sedang menyelenggarakan TALENTA yaitu Tantangan Literasi Nusantara selama 10 bulan yang dimulai sejak bulan Maret dan berakhir pada Bulan Desember 2023. Talenta merupakan Upaya untuk “menyi’arkan” semangat literasi berbasis multiliterasi. Literasi baca tulis, literasi digital, literasi religi, literasi budaya atau kearifan lokal, literasi finansial, dan lain lain.

Spirit ayat pertama dalam Al-Qur’an tersebut sejatinya terus kita gaungkan lewat berbagai cara atau berbagai varian kegiatan. Semakin banyaknya agenda keliterasian maka generasi kitapun akan termotivasi untuk melek pengetahuan, membuka wawasan lewat membaca buku, mereviu, berdiskusi, bedah buku, temu penulis, dan cendekiawan atau para ulama dan ilmuwan.

Dengan gambaran seperti itu, mau tidak mau negara ini harus habis-habisan berinvestasi kepada generasi mudanya lewat Pendidikan, lewat pengambangan pengetahuan kalau mau bangsa Indonesia maju setara dengan bangsa-bangsa lainnya di dunia. Bukankah motto keren Hari Kemerdekaan RI tahun 2023 ini juga “Terus melaju menuju Indonesia maju” ?.

Di akhir tulisan ini saya sampaikan bahwa Setiap manusia harus berupaya menjadi manusia yang baik yang mampu memberikan manfaat bagi semesta, tidak hanya bagi manusia saja tetapi juga kepada makhluk lainnya dan lingkungan sekitarnya. Sebagaimana hadis Rasulullah SAW sampaikan bahwa manusia yang paling baik adalah manusia yang bermanfaat untuk manusia lain dan lingkungannya.

Oleh karena itu, adalah merupakan sebuah suatu keniscayaan bahwa kita wajib belajar dalam rangka mengembangkan potensi diri, melatih keterampilan atau keahlian, dan perilaku agar menjadi lebih baik setiap saat. Proses belajar tidak ada batasnya sepanjang manusia hidup.

Dengan fitrah perubahan dan dinamika keberadaan manusia sebagai figur sosial, proses tersebut merupakan keniscayaan selaku mahkhluk sosial itu sendiri. Trial and error itu biasa, jangan takut untuk jatuh dan bangkit lagi karena hidup ini berproses. Proses tersebut, secara manusiawai, dimulai dari buaian ibu hingga akhir hayat. Berproses artinya bertahap dan berkelanjutan.

Bertahap dan pembelajar itu merupakan ciri manusia pembelajar. Dengan menjadi manusia yang pembelajar kita akan selalu mengembangkan potensi dalam diri agar kualitas diri semakin meningkat. Sumber daya manusia yang berkualitas merupakan salah satu faktor yang memengaruhi kemajuan umat dan bangsa. Bagi umat islam sendiri, membaca atau belajar merupakan suatu amal saleh yang akan mendapat pahala dari Allah SWT jika kita melakukannya dengan ikhlas.

Editor: Saiful Maarif




Terkait