Direktorat Pendidikan Agama Islam

Bercerita dan Mendongeng pada Anak, Masih Perlukah?

Oleh: Rohyal Aini, S.Ag (Guru TK Bakti Arrahman Mataram NTB)

Kita patut bersyukur, Kementerian Agama telah menerbitkan buku Pedoman Pengembangan Pembelajaran PAI (Pendidikan Agama Islam) pada Taman Kanak-Kanak. Di dalamnya terdapat 5 ruang lingkup pengembangan Agama Islam di PAUD/TK, termasuk salah satunya lingkup SPI (Sejarah Peradaban Islam). Kita harus mengajarkan sejarah atau kisah karena 3/4 isi Al-Quran itu sendiri adalah al-kisah (sejarah). Manfaat dari sejarah itu sendiri secara umum adalah sebagai ibrah limaú’izatil hasanah; dari Al Quran terdapat banyak hikmah dan peristiwa yang bisa kita ambil sebagai pelajaran yang perlu kita terapkan dan kembangkan dari sejak usia dini. Usia dini adalah waktu yang paling tepat untuk memperkenalkan sejarah dalam kaitan upaya membentuk karakter.

Mengenalkan sejarah kepada anak sejak usia dini ibarat menanam bibit yang baik, sehingga akarnya akan kuat dan kelak akan menghasilkan pohon yang baik. Kita perlu bangkitkan cerita-cerita yang menginspirasi sejak usia dini, karena begitu banyak karakter berbagai bangsa yang banyak dipengaruhi oleh cerita yang mereka dengar saat masih kecil. Kita perlu ceritakan kisah para pahlawan nasional, menjelaskan sifat-sifat yang baik yang dimiliki oleh pahlawan nasional tersebut dan bagaimana perjuangan mereka dalam meraih kemerdekaan bangsa Indonesia.

Dengan mengenalkan sejarah kepada anak usia dini, maka akan tumbuh rasa cinta dengan negeri ini secara natural. Mereka akan sadar bagaimana perjuangan dalam meraih kemerdekaan, sehingga akan tumbuh rasa bangga dan keinginan menjaga kemerdekaan dan kesejahteraan bangsanya.
Disamping itu, kita perlu ceritakan kepada mereka kisah para sahabat Nabi Muhammad SAW yang hidup mulia dengan membela agama Islam, seperti sosok Umar bin Al- Khattab yang menjaga Nabi Muhammad saat hijrah dari Makkah ke kota Madinah. Banyak juga sahabat Rasulullah lainnya yang memiliki kekurangan pada diri mereka, namun justru dalam dirinya memiliki daya dobrak untuk menjadi yang terbaik di antara sahabat lainnya.

Bercerita di Era Digital

Namun sayangnya, di Era digital pendidikan lewat bercerita sudah mulai ditinggalkan. Hal ini disebabkan globalisasi yang ditandai dengan kemajuan teknologi begitu pesat. Kemajuan pesat teknologi memberi sisi negatif, yakni lambat laun menghilangkan tradisi bercerita. Di samping itu, sekolah dituntut bersaing dan berorientasi pada aspek kognitif, seperti membaca dan berhitung.

Era digital menuntut semua serba teknologis. Itu membuat anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan gadget. Pengaruh teknologi ini sangat terasa. Sejak pagi hingga malam, misalnya, anak dihadapkan pada tontonan televisi dengan program dan acara yang kurang memberikan pendidikan. Di televisi, banyak program yang tidak jelas.

Tak hanya itu, tantangan berat juga berada pada video atau online games. Mainan semacam free fire, among us, mobile legend, dan lainnya, menjamur di media sosial. Akibatnya, banyak anak sudah sampai taraf kecanduan dengan online games tersebut.

Bercerita adalah kegiatan menyampaikan sesuatu secara lisan kepada orang lain. Bentuknya bermacam-macam, bisa berupa pesan, informasi, kadang hanya dongeng yang bertujuan menyenangkan. Perlu disadari, teknik bercerita bisa menjadi salah satu metode mengembangkan pengetahuan anak sejak dini. Aktivitas bercerita menjadi tindakan produktif dengan mendorong anak lebih aktif secara fisik dan pikiran.

Bercerita mampu membangun imajinasi anak sejak dini, dan hal ini sangat penting. Itu karena usia dini adalah golden age, usia keemasan, yang sangat menentukan proses pendidikan selanjutnya. Usia 0-6 tahun ini sangat kritis sekaligus strategis untuk diisi proses pendidikan. Menurut Yamin (2010), golden age ini menjadi aspek penting untuk mengembangkan berbagai kemampuan, kecerdasan, bakat, kemampuan fisik, kognitif, bahasa, sosial, emosional, dan spiritual.

Anak sebagai Kertas Kosong

Meminjam Teori Tabula Rasa John Locke, anak itu seperti kertas kosong, tergantung pada kita menulisinya. Jika anak sejak dini sudah ditanamkan bercerita, maka akan tertanam kesadaran membentu mereka untuk mengenal dunia lebih luas. Dengan begitu, anak akan tertarik membaca.

Melalui bercerita, anak juga diajak berpikir kreatif. Dari kondisi ini anak akan belajar mengeksplorasi ide imajinatif, diajak untuk berimajinasi lebih jauh dan berpikir di luar zamannya. Mari belajar pada ungkapan Albert Einstein bahwa seharusnya penguasaan dan pemahaman kita cukup 1/%, yang lebih penting daripada itu adalah imajinasi. Menurutnya, imajinasi lebih penting daripada pengetahuan.

Dari Einstein kita belajar bahwa membangun imajinasi anak sangat menentukan proses pendidikan. Dari imajinasi terbangun inspirasi. Dari inspirasi terbentuk kreativitas. Setiap anak mempunyai tingkatan imajinasi berbeda. Mereka punya keunikan tersendiri. Ada anak yang mempunyai imajinasi tinggi, sebaliknya ada anak yang imajinasinya lemah.

Solusi bagi kelemahan itu adalah membangunnya lewat bercerita, sehingga imajinasi anak bisa berjalan dengan optimal. Sangat disayangkan jika lembaga pendidikan kita lebih menekankan pada aspek proses kognitif yang berorientasi pada kegiatan membaca, menulis, dan menghitung saja. Sangat disayangkan jika kita lupa membagun kemampuan bercerita untuk anak, sedangkan mengembangkan imajinasi adalah kunci untuk membangun masa depan anak.

Bercerita dan berdongeng secara tidak langsung mengajarkan anak untuk membaca dan menulis. Menurut Shalahuddin, yang dikutip Andalusia N. Permatasari,dkk (1997:6), bermain, bercerita, dan bernyanyi untuk sebagian kalangan dianggap hanya menghabiskan waktu, bersenang-senang, berbahagia. Namun demikian, sesungguhnya bercerita dan berdongeng berkontribusi banyak terhadap proses belajar dan perkembangan anak.

Cerita yang menarik membuat imajinasi anak semakin terangsang. Cerita tak harus monoton, melainkan mengikuti perkembangan yang lagi viral dan diadaptasikan dengan kondisi anak. Guru/Orang tua harus lebih kreatif biar anak semakin tertarik. Cerita yang variatif atau bermacam-macam, seperti dikatakan Lenox (2000) bermanfaat membuat anak semakin tertarik, menambah wawasan, dan merangsang imajinasi.

Namun, sekali lagi, saat ini pendidikan lewat bercerita sudah mulai ditinggalkan. Hal ini harus menjadi keprihatinan kita bersama, karena pendidikan bercerita sejak dini sangat penting untuk membangun imajinasi anak. Pendidikan bercerita sudah mulai tak populer di masyarakat bahkan dalam lembaga pendidikan. Hal ini disebabkan globalisasi yang ditandai dengan kemajuan teknologi begitu pesat yang terasa lambat laun menghilangkan tradisi bercerita kita.

Disinilah peranan penting kita sebagai guru, baik sekolah maupun sebagai guru di rumah, untuk melek IT dan memperkenalkan IT kepada anak-anak, karena memang sekarang zamannya berbeda. Anak baru berumur 2 tahun sudah bisa membuka musik yang dia sukai. Banyak anak yang cerdas dan gemilang berkat IT, karena itu jangan sampai kita mematahkan kreativitas anak-anak kita, dalam hal ini perlunya pengawasan dan pendampingan sepenuhnya orang tua saat anak menggunakan fasilitas gadget.

Semoga kita tetap dapat mengembangkan tradisi bercerita dan mendongeng kepada anak kita dengan dukungan teknologi yang relevan dan senantiasa berada dalam pengawasan kita.

Penyelia: Suharno

Editor: Saiful Maarif

Penyiap Bahan : Hantoro

(Tim Media PAI/SM)